fbpx
Mengenal Ekonomi Linier dan Resiko untuk Masa Mendatang

Mengenal Ekonomi Linier dan Resiko untuk Masa Mendatang

Terhitung sejak Revolusi Industri, ekonomi dunia kita secara dominan selalu menerapkan Konsep Ekonomi Linier. Namun, apa yang dimaksud dengan Konsep Ekonomi Linier tersebut? Konsep Ekonomi Linier mengacu pada model industri tradisional yang secara historis diyakini telah membawa kemajuan bagi masyarakat dengan meningkatkan taraf kehidupan kita. Model ini memiliki proses berupa ‘mengambil, membuat, membuang’. Sederhananya, bentuk ekonomi ini mengambil bahan mentah yang ‘diambil’ dari alam untuk ‘dibuat’ menjadi produk dan setelah digunakan oleh konsumen, produk ‘dibuang’ menjadi sampah. Oleh sebab itu, dapat kita asumsikan, semakin sering konsep ekonomi ini digunakan, semakin besar pula penimbunan sampah yang berbahaya bagi bumi dihasilkan.

Konsekuensi dari penerapan Konsep Ekonomi Linier pun lebih dari sekedar penimbunan sampah. Salah satu bentuk kerugian paling krusial dalam menggunakan konsep ekonomi ini, yaitu kerusakan terhadap ekosistem alam. Kerugian secara ekologis ini disebabkan oleh ketergantungan konsep ekonomi ini terhadap sumber daya alam dalam tahapan produksi. Seperti logam, mineral, dan bahan bakar fosil. Dengan kata lain, semakin tinggi permintaan pasar terhadap suatu produk, semakin tinggi pula konsumsi terhadap sumber daya alam tersebut. Hanya saja, yang sering kali dilupakan adalah bagaimana sumber-sumber daya tersebut sesungguhnya terbatas dan sudah seharusnya digunakan secara bijak. Hal yang sama pun berlaku pada penggunaan air dan tanah yang mudah terpolusi. Alhasil, limbah dan polusi yang dihasilkan dari proses produksi pun menghancurkan proses naturalisasi dari ekosistem alam kita. Gangguan terhadap bumi kemudian membahayakan bagi mahluk hidup, termasuk manusia, yang hidup di dalamnya. Lebih dari itu, dalam melaksanakan proses ini, pelaku bisnis model linier pun memiliki tendensi untuk memberikan upah minim pada pekerjanya guna mendapatkan keuntungan maksimal yang diinginkan. 

 

Namun, jika ada satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana Konsep Ekonomi Linier telah menurunkan sebuah cara pandang ‘buang jika tidak lagi diperlukan’ dalam mengonsumsi suatu produk. Cara pandang ini membuat konsumen menjadi egois dan menapikkan kenyataan bahwa di dalam membuat satu produk, terdapat begitu banyak sumber daya yang telah diperdayakan. Baik sumber daya alam maupun manusia. Oleh sebab itu, bisa dikatakan, ketika konsumen membuang suatu produk, maka konsumen menghapuskan setiap energi, keringat, kerja keras yang telah dicurahkan pada suatu produk tertentu. Dengan kata lain, secara langsung maupun tidak langsung, konsumen pun ikut serta dalam proses yang sungguh merugikan ini.

 

Di dalam menanggapinya, maka satu solusi pertama yang bisa kita lakukan adalah untuk mengeliminasi kata ‘sampah’ dalam pikiran kita. Ketimbang melihat produk yang tidak kita gunakan lagi sebagai ‘sampah’, maka ada baiknya untuk melihatnya sebagai produk yang masih memiliki nilai yang dapat kita perdayakan ulang. Terdapat berbagai cara dalam melakukannya, seperti mendonasikannya kepada orang-orang yang lebih membutuhkannya, atau melalui proses upcycling. Hanya saja, dua solusi tersebut memiliki suatu keterbatasan berupa tingkat kelayakan dan kemungkinan akan menjadi sampah kembali. Lantas, solusi apa yang paling tepat dalam menyikapinya?

 

Penasaran? Tunggu artikel kami selanjutnya, yaitu “Perkenalan Pertama: Ekonomi Sirkular” untuk menemukan jawabannya!

Penulis: Luna Adriana
Category:
Prev project Next project
Scroll up Drag View