Melandaikan Pegunungan Limbah Tekstil

Melandaikan Pegunungan Limbah Tekstil

Setiap hari, setiap kali hendak keluar rumah, yang kita pusingkan seringkali adalah, “Well, mau hangout sama kawan, nih, pake baju apa, ya?” Atau, mengeluh “tidak punya baju” setiap ada jadwal kencan dengan gebetan, sementara sebetulnya isi lemari penuh pakaian beragam.

Kita seringkali membeli banyak pakaian yang—jujur saja—tidak pernah kita kenakan. Atau, dengan buta membeli pakaian yang kita inginkan, padahal tidak kita butuhkan. “Kenapa” bukan pertanyaan paling penting saat ini. Sebab, hal itu pasti berkaitan dengan psikologis. Sebab, kadang-kadang kita tak bisa berhenti berbelanja apa pun itu, termasuk pakaian, untuk meningkatkan mood, menghilangkan bosan, atau sekadar berbagi momen dengan teman.

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang kita lakukan terhadap pakaian-pakaian yang sudah rusak atau tidak pernah kita kenakan lagi?

Kenapa pertanyaan ini penting untuk diajukan? Karena apa yang kita lakukan erat kaitannya dengan keselamatan planet tempat kita tinggal. Karena jalan yang kita pilih dalam memperlakukan pakaian-pakaian bekas ini berpengaruh pada krisis lingkungan dan krisis iklim yang sekarang terjadi. Berlebihan? Tidak.

Faktanya, industri mode adalah salah satu industri yang menghasilkan polusi paling tinggi di dunia kedua setelah industri minyak. The Conversation (insert link: theconversation.com) menyatakan, industri ini menghasilkan 20% air limbah global dan 10% emisi karbon global. Sampah tekstil pun merupakan ancaman tak kalah mengerikan daripada film horor mana pun di dunia.

Sebagai gambaran, di Inggris, sekitar 300.000 ton pakaian dikirim ke tempat pembuangan akhir setiap tahunnya. Sementara, di Amerika Serikat, dalam 20 tahun terakhir, volume pakaian yang dibuang berlipat dari 7 juta menjadi 14 juta ton—dan sekitar 11,2 juta tonnya berakhir juga di TPA (sumber: Environmental Protection Agency, 2017). Sama seperti plastik, tekstil pun sulit untuk terurai. Kemeja, kulot kesayangan yang sudah lusuh, seprai, handukmu, butuh waktu hingga sekitar 200 tahun lamanya untuk terurai jika dibuang.

QUOTES:

Total, di seluruh dunia, dunia fashion berkontribusi menghasilkan sekitar 92 juta ton sampah solid di TPA. – Unenvironment.org

Di satu hari yang biasa, seperti hari ini yang hujan deras diiringi petir yang terdengar susul-susulan, kita perlu kembali berpikir pertanyaan penting tadi, “Apa yang selama ini kita lakukan pada pakaian-pakaian kita yang sudah tidak kita kenakan atau yang sudah rusak?” Jika sebelumnya tidak menyadari bahaya lebih besar yang membayangi, mungkin kali ini sudah lebih sadar bahwa jawaban yang kita berikan semestinya bisa jadi solusi untuk lingkungan, untuk membalikkan krisis iklim.

Untungnya, kesadaran banyak pihak untuk melandaikan pegunungan sampah tekstil di tempat pembuangan mulai meningkat. Bisa dilihat dari banyak jenama (brand) yang berupaya mengubah cara produksi tekstil mereka untuk mengurangi sampah tekstil. Semisal, Patagonia merilis platform Worn Wear di mana kita bisa membeli dan menjual barang-barang Patagonia bekas-pakai; H&M yang memiliki layanan daur-ulang di ribuan toko di dunia agar tak ada pakaian dari H&M yang menyentuh TPA; atau The North Face yang memiliki program Through Its Clothes the Loop yang menerima barang TNF bekas tapi layak pakai dan lalu mengirimkannya ke Soles4Souls untuk didistribusikan ke orang-orang yang membutuhkan.

Sekarang, coba tanya diri sendiri pertanyaan yang sama. Kalau jawaban yang muncul di kepala adalah mendonasikan pakaian-pakaian layak pakai ke badan amal atau orang-orang yang membutuhkan—alih-alih dibuang—, tindakan itu sudah benar. Penggunaan kembali (reuse) adalah salah satu solusi sederhana tapi efektif untuk mengurangi sampah tekstil menggunung di TPA.

QUOTES:

Daur ulang (recycle) mungkin mau kita jadikan jawaban kedua yang muncul di benak kita. Sebab, daur ulang adalah salah satu solusi yang baik, tetapi masih tidak populer, termasuk di Indonesia. Di AS pada 2017, dari total sampah tekstil, hanya sekitar 15,2% berhasil didaur ulang.

Di Indonesia, ketidakpopuleran solusi daur ulang untuk sampah tekstil disebabkan banyak alasan. Salah satunya adalah di negeri ini, masih sangat minim informasi tentang ke mana kita harus mengirimkan pakaian bekas kita jika ingin mendaur ulang. Kalau pakaian masih layak pakai bisa dengan mudah kita donasikan, tetapi bagaimana dengan pakaian yang sudah karut-marut, lusuh, bersimbah oli atau minyak, dan keadaan rusak lainnya? 

Beberapa tahun lalu, jawaban atas pertanyaan di atas mungkin sulit ditemukan. Namun, sekarang, dengan bangga kami bisa menjawab, “Pable.” 

Dengan kesadaran penuh bahwa sudah saatnya kita melakukan sesuatu untuk bumi terkait sampah tekstil, Pable menjadi wadah mendaur ulang sampah tekstil, mereproduksi, lalu mendistribusikannya dengan cara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dari hasil daur ulang tersebut, tercipta beberapa output, seperti kain tekstil siap olah hingga produk-produk zero waste yang bisa dijual kembali, seperti serbet, karpet, hingga keranjang.

  • Beberapa tahun lalu, jawaban atas pertanyaan di atas mungkin sulit ditemukan. Namun, sekarang, dengan bangga kami bisa menjawab, “Pable.” Dimulai dengan mengolah sampah pre consumer ( potongan kain perca bekas industry ), Pable mampu memperpanjang usia sampah dengan mengolahnya menjadi benang kembali atau berupa kain tekstil siap olah. 

Dari hasil daur ulang tersebut, tercipta beberapa output, seperti kain tekstil siap olah hingga produk-produk zero waste yang bisa dijual kembali, seperti serbet, karpet, hingga keranjang.

Diharapkan pada tahun 2021-2022 Pable dapat menjalankan program drop box untuk mengumpulan limbah post consumer ( sampah tekstil rumah tangga ), sehingga masyarakat akan menjadi lebih bertanggung jawab dalam pengolahan sampah tekstil. 

QUOTES:

Info soal drop point sampah tekstil di Pable.

  • Ini belum bisa di sounding karena infrastrukturnya belum disiapkan, tapi akan kita trial 1-5 titik di 2021 untuk proses development ke depannya

Kita kerap menunda-nunda pekerjaan, tetapi sebaiknya tidak kali ini. Sekarang adalah selalu waktu yang tepat untuk terlibat dalam menjaga lingkungan dan mengurangi krisis iklim. Caranya, sesederhana menahan diri untuk tidak berbelanja yang tak perlu, mendonasikan pakaian layak pakai, dan mendaur ulang yang sudah rusak. Apa pun demi melandaikan pegunungan sampah tekstil di tempat pembuangan. Apa pun demi menghindarkan pakaian-pakaianmu menumpuk di sana dan tak bisa terurai hingga ratusan tahun lamanya.

Penulis: Astri Apriyani
Category:
Prev project Next project
Scroll up Drag View