Cerita di Balik Pencarian Desa Tenun

Cerita di Balik Pencarian Desa Tenun

Ketika Pable mencari partner untuk membantu proses penenunan kain, ada beberapa desa dan sentra industri di Jawa Timur yang kami datangi. Kebanyakan sentral industri yang kami datangi memang memiliki histori yang panjang tentang proses penenunan kain. 

Kain tenun yang banyak dikenal oleh masyarakat tentunya adalah kain yang memiliki karakter khas daerah masing-masing dengan beragam fungsi yang bisa digunakan dari kain tersebut. Digunakan sebagai pakaian sehari – hari ataupun aksesoris pelengkap.

Menariknya, Pable masih penasaran untuk mencari desa lainnya dengan keunikan yang mungkin jarang terlihat. Sampai akhirnya kami mertamu di sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai penenun kain pel dan kain serbet.

Barulah kami menyadari, selama ini keset yang biasa dipakai di depan rumah, kain pel yang biasa digunakan untuk mengelap lantai dan kain lap untuk membersihkan sudut rumah, berasal dari desa ini. 

Pekerjaan penenunan kain pel dan kain lap sudah dilakukan secara turun menurun dari 4 generasi sebelumnya. Selain bercocok tanam dan bertani, menenun adalah pekerjaan tambahan yang bisa dikerjakan sambil menunggu waktu panen tiba.

Bermodalkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), tentu saja menenun bukanlah pekerjaan mudah. Butuh ketelatenan, konsistensi, kesabaran dan tangan terampil agar membuat setiap lembaran kain pel dan serbet ini memiliki nilai ekonomis dan layak untuk disetor kepada Kepala Produksi.

Terlebih lagi, motif serbet kotak, adalah motif yang sulit untuk dibuat, karena antara tangan dan mata penenun harus jeli mengira – mengira berapa gedokan dari setiap motif agar terlihat sama dan menghasilkan motif yang seragam.

Selama berpuluh – puluh tahun, penduduk desa tidak pernah terbayang untuk mengerjakan produk lain selain kain pel dan kain serbet. Hal ini tentunya menjadi tantangan untuk Pable, bagaimana mengajak para penduduk desa untuk terlibat dalam pembuatan produk baru. Bagaimana memperkenalkan benang daur ulang yang lebih rumit dan unik secara karakter, karena benang virgin pastinya lebih kuat dan lebih mudah untuk diolah.

Proses value chain yang selama ini sudah terjadi di desa mereka selama beberapa generasi, harus saya rubah. Seperti contoh, mengalihkan penggunaan benang virgin yang di supply dari kerabatnya sendiri, menjadi menggunakan benang dari Pable. Tentunya lebih menguntungkan bagi mereka, jika benang yang digunakan adalah benang mereka sendiri.

Selama 6 bulan, dalam seminggu saya berkunjung 2-3x ke desa untuk membangun kepercayaan, memberikan edukasi tentang dampak lingkungan dan ekonomi apabila terlibat dengan proses sirkular yang dilakukan oleh Pable. Tak ketinggalan, proses pengenalan produk benang Pable mulai dari pembuatan benang daur ulang dari sampah tekstil beserta kelebihan dan kekurangannya. 

Belum lagi meyakinkan mereka untuk menenun kain polosan, yang selama ini belum pernah dikerjakan. Menyamakan persepsi dan pola kerja tentunya tantangan tersendiri yang harus saya dan para penenun lewati. Sampai pada akhirnya mereka bersedia untuk mencoba menenun benang daur ulang dari Pable.

Tantangannya tidak selesai sampai disitu, dikarenakan benang daur ulang memiliki serat yang lebih kasar dan pendek daripada benang virgin, sehingga pada saat proses pemintalan dan penenunan tidak semudah sebelumnya. Benang putus di tengah – tengah proses penenunan, penggunaan sisir yang tidak sesuai, mengatur benang pakan dan benang lusi juga menjadi faktor penting dalam proses penenunan kain dari benang daur ulang Pable.

Dibutuhkan waktu 3 bulan penyesuaian sampai akhirnya semua proses penenunan dapat berjalan normal, para pekerja yang terlibat menjadi lebih banyak. Harapan Pable ke depannya, konsep #wearecircular ini dapat diterapkan secara maksimal melibatkan para pekerja di desa. Memberikan kontribusi lebih baik dari faktor edukasi dan ekonomi, sehingga merangsang para generasi muda untuk terlibat dalam proses pemberdayaan kain tenun hasil benang daur ulang sampah tekstil.

Penulis: Aryenda Atma
Category:
Prev project
Scroll up Drag View