UncategorizedMemilah untuk Mewarnai: Keunikan Kain Daur Ulang Pable

Memilah untuk Mewarnai: Keunikan Kain Daur Ulang Pable

Pable merupakan kain daur ulang yang menggunakan sampah tekstil pre-consumer dan post-consumer sebagai bahan baku produksi. Di dalam memproduksi kain daur ulang Pable, kami memutuskan untuk mengaplikasikan sebuah sistem produksi yang dinamakan sebagai closed-loop system. 

Closed-loop system adalah sebuah sistem kemasyarakatan yang menjadikan produk, serta komponennya dirancang, diproduksi, digunakan, dan ditangani untuk dapat beredar di masyarakat selama mungkin. Terdapat dua tujuan utama dalam closed-loop system, yaitu untuk menciptakan suatu produksi minim limbah, dan melahirkan produk-produk yang dapat digunakan masyarakat secara maksimum.

Pable sebagai salah satu pelaku dari penerapan closed-loop system terhadap produksi tekstil pun memiliki caranya tersendiri. Salah satunya adalah dengan meniadakan proses pewarnaan pada produksi kain daur ulang Pable guna menghindari limbah hasil perwarnaan. Hilangnya satu langkah dari sebuah proses produksi kain menuntut Pable untuk mencari solusi alternatif. Melalui berbagai pertimbangan, kami pun memutuskan untuk mendapatkan warna kain bukan dari proses pewarnaan, namun melalui proses penyortiran sampah tekstil berdasarkan warna yang dimilikinya. 

Berbeda dengan proses pembuatan kain konvensional, proses penyortiran sebagai pengganti proses pewarnaan dilakukan pada awal produksi. Sampah-sampah tekstil yang kami kelola dipilah berdasarkan warna sebelum memasuki proses pemotongan. Setelah sampah kain dipotong sesuai dengan kebutuhan mesin daur ulang kami, barulah produksi kain dapat dimulai. Cara alternatif ini pula yang kemudian membuat kain daur ulang Pable memiliki beberapa keunikan. Baik secara proses produksi maupun hasil akhir produk.

Pertama, minimnya penggunaan air dalam proses produksi kain daur ulang Pable. Penggunaan sampah tekstil pre-consumer dan post-consumer sebagai bahan baku Pable memberikan ruang untuk kami mengeliminasi beberapa proses pembuatan kain yang membutuhkan air secara masif. Hal ini dikarenakan kedua tipe bahan baku sesungguhnya merupakan produk jadi dari proses konvensional yang telah dilakukan sebelumnya. Setidaknya terdapat enam proses pembuatan kain yang membutuhkan air di produksi tekstil konvensional, yakni pretreatment, dyeing, finishing, coating & laminating, washing dan drying. Sedangkan pada sistem produksi Pable yang menggunakan proses pernyotiran, penggunaan air hanya terjadi pada proses pretreatement saja. Lebih dari itu, penggunaan air pada proses pretreatment kami pun hanya mencipratkan air saja, dan bukan mengalirkannya. Melalui evaluasi terhadap sistem produksi kain daur ulang Pable, kami mendapatkan data  bahwa sistem ini telah menghemat air sebanyak 96% jika dibandingkan dengan produksi konvensional.

Kedua, inkonsistensi warna kain daur ulang Pable. Pengaplikasian proses pernyortiran dalam sistem produksi membuat produksi kami sangat bergantung pada sampah tekstil yang kami dapatkan. Sebagai contoh, dalam memproduksi kain Sekir Merah milik Pable, tingkat warna merah akan berbeda pada tiap-tiap produksi. Hal ini dikarenakan warna merah yang dihasilkan akan selaras dengan tingkat warna merah yang paling dominan pada sampah tekstil yang kami proses. 

Ketiga, warna kain daur ulang Pable merefleksikan kehidupan masyarakat. Kuota produk Pable berbanding sama dengan warna sampah tekstil yang kami kelola. Ketika berbicara mengenai sampah tekstil, maka ketersediaan sampah tekstil pre-consumer maupun post-consumer memiliki keterkaitan erat dengan situasi dunia yang terjadi di sekitar kita. Dengan melihat warna sampah tekstil yang Pable kelola, kami bisa menebak-nebak tren fashion di tiga bulan lalu, atau bahkan kondisi politik yang terjadi pada masa pemilihan umum. Kain daur ulang Pable mampu mengajak penggunanya untuk mengintropeksi keputusan diri sendiri, maupun komunitas yang menaunginya. 

Beragam keunikan yang hadir dari warna kain Pable ini berasal dari closed-loop system dengan pendekatan mengeliminasi proses pewarnaan, dan menggantikannya dengan proses pernyortiran. Keputusan yang beresiko, namun tidak tanpa alasan. Melalui keputusan ini, Pable semakin setia dengan alasan utama kami dilahirkan, yaitu sebagai sustainable solution bagi isu sampah tekstil. Bukan saja kami dapat meminimalisir dampak buruk bagi lingkungan, namun juga mampu menghantarkan cerita-cerita penting di kehidupan kita melalui produk kami.

 

Demi bumi, Pable memilih memilah untuk mewarnai.

Scroll up Drag View