UncategorizedCerita Pable: Lima Poin Pelajaran Penting dari National Dialogue!

Cerita Pable: Lima Poin Pelajaran Penting dari National Dialogue!

Pandemi COVID-19 telah melambatkan perekonomian dunia secara global. Di Indonesia, kondisi ini pun dirasakan secara nyata. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran pada bulan Februari 2021 tercatat sebanyak 8,75 juta orang. Data ini secara signifikan meningkat jika dibandingkan dengan jumlah pengangguran di bulan Februari 2020 sebesar 6,93 juta orang. Dalam kurun waktu satu tahun, 1,82 juta orang telah kehilangan pekerjaan mereka. 

 

Di dalam menghadapi masa prihatin ini, Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk tetap berkomitmen pada Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN). Keputusan ini dilakukan karena RIPIN mengandung prinsip-prinsip Ekonomi Sirkular yang dipercaya dapat memulihkan perekonomian Indonesia. Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai salah satu sektor yang merasakan dampak keterpurukan dari masa Pandemi COVID-19 ini pun dihimbau untuk mulai merangkul praktik-praktik Ekonomi Sirkular sebagai solusi untuk bangkit kembali. 

 

Acara National Dialogue: Assessing the Readiness for Circularity in Indonesia Textile and Garment Industry dari Asia Pacific Rayon (APR) & Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) yang diadakan pada 19 Agustus 2021 hadir untuk mendukung dan menyiarkan solusi tersebut. National Dialogue dihadiri oleh lima tokoh penting dalam masa transisi Indonesia menuju sirkular. Tokoh-tokoh tersebut adalah Agus Gumiwang Kartasesmita selaku Menteri Perindustrian Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti selaku Deputi Bidang Ekonomi Kementrian PPN/BAPPENAS, Rosa Vivien Ratnawati selaku Direktur Jenderal PSLB3, Gabriella Constantinou sebagai perwakilan Project & Research dari Danish Lifestyle & Design Cluster, dan Elis Masitoh selaku Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki. 

 

Kelima tokoh membagikan berbagai data aktual pada sektor industri TPT untuk menyuarakan kesempatan, tantangan, serta rekomendasi di dalam merangkul Ekonomi Sirkular sebagai masa depan industri Tekstil dan Garmen di Indonesia. Selain itu, APR & IBCSD pun mengundang tiga perwakilan pelaku industri yang telah melancarkan praktik-praktik sirkular pada bisnis mereka sebagai penanggap dari National Dialogue ini. Ketiga perwakilan tersebut adalah Basrie Kamba selaku Direktur Asia Pacific Rayon, Anya Sapphira selaku Program, Stakeholder Engagement & Public Affair Manager Production Office Indonesia dari H&M, dan Aryenda Atma selaku Founder dari Pable. Diskusi antara pemangku kebijakan dan pelaku industri kemudian diharapkan dapat melahirkan solusi-solusi baru untuk mengembangkan sektor TPT menuju industri hijau. Industri mandiri yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, namun juga memprioritaskan kesejahteraan sosial dan pelestarian lingkungan. 


Berikut lima poin pelajaran penting dari National Dialogue yang Pable dapat kumpulkan. Semoga poin-poin ini dapat membantu circular heroes untuk menemukan solusi-solusi berkelanjutan baru yang dapat mendukung perkembangan Industri Tekstil dan Garmen Indonesia menuju industri hijau!

Kementrian Perindustrian: Ekonomi Sirkular Milik Indonesia

Di dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia, terangkum aspirasi dan kehendak rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, maju dan berkeadilan sosial. Keempat aspirasi dan kehendak ini seharusnya selalu kita tanamkan dan lestarikan sebagai acuan dalam setiap upaya pembangunan di berbagai sektor. Oleh karena itu, pembangunan industri harus diarahkan pada tiga prinsip, yakni membangun industri yang mandiri dan berdaulat, memacu industri yang maju dan berdaya saing, dan mewujudkan industri yang berkeadilan dan inklusif. Ketiga prinsip ini kemudian dipercaya dapat dilakukan melalui penerapan Ekonomi Sirkular di Indonesia.

Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah menuju sirkularitas adalah sebagai berikut:

  1. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menjadi salah satu kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai industri strategis dan prioritas nasional sesuai dengan RIPIN. 
  2. Pada MUSRENBANGNAS 2021, presiden menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi hijau dan biru, percepatan transformasi energi baru dan terbarukan, dan penguatan ekonomi hijau, teknologi hijau & produk hijau perlu segera diimplementasikan. 
  3. Penerapan ekonomi sirkular di sektor TPT telah dituangkan ke Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2021.
  4. Penerapan ekonomi sirkular di sektor TPT termasuk di dalam road map, “Making Indonesia 4.0” dan RIPIN. Pengonsentrasian upaya terletak pada industri daur ulang polyester staple fiber, yang berasal dari plastik botol bekas dan pengembangan renewable dan sustainable fiber rayon dari traceable woods, sustainable forestry & eco-friendly production
  5. Kementrian Perindustrian memberikan kemudahan akses terhadap bahan baku dalam rangka penerapan Circular Economy pada industri tekstil berupa potongan atau sisa benang yang kemudian diolah menjadi sarung tangan, benang, open end, mop yarn, atau kain & pakaian baru. 
  6. Pelaksanaan penerapan industri hijau, bimbingan teknis pemilihan plastik sebagai bahan baku industri daur ulang, penyusunan pedoman pengolahan sampah kemasan sektor industri, penyusunan kajian penerapa kemasan ramah lingkungan (Eco Packaging), dan menyiapkan proyek daur ulang pakaian bekas berupa visibility study dan pilot project di beberapa industri terkait. 
  7. Penerapan teknologi inti industri 4.0 untuk melaksanakan proses daur ulang, sourcing bahan baku lain yang ramah lingkungan, dan proses pengurangan jejak karbon.

Ketujuh upaya ini kemudian diintergrasikan dengan pihak-pihak lain yang terkait untuk dilaksanakan secara berkala. Beberapa pihak yang Pable ketahui adalah BAPPENAS, Kementrian Perindustrian, dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kementrian PPN/BAPPENAS: Rencana Besar Ekonomi Sirkular di Indonesia

Kajian BAPPENAS, UNDP dan Embassy of Denmark menunjukan terjadinya penurunan massa penggunaan pakaian sebesar 36% yang disebabkan oleh peningkatan fast fashion. Hal ini berujung pada peningkatan jumlah limbah pakaian sebesar 78% limbah tekstil menuju landfill. Tren yang sama pun terjadi di Indonesia. Survei terkini menunjukan 3 dari 10 orang Indonesia membuang pakaian mereka setelah satu kali penggunaan. 

Di tahun 2019, Indonesia memproduksi 2,3 juta limbah tekstil. Jika model bisnis linier tetap dilakukan di sektor TPT, maka total limbah tekstil di Indonesia diperkirakan dapat meningkat hampir 70% atau 3,5 juta limbah tekstil pada tahun 2030. Saat ini, mayoritas rantai nilai pakaian di Indonesia masih beroperasi secara linier. Sistem linier ini disamping menghilangkan peluang ekonomi, namun juga menempatkan tekanan pada sumber daya, mencemari & menurunkan kondisi alam dan ekosistem, serta menciptakan dampak sosial negatif yang signifikan di tingkat regional maupun global. 

Berdasarkan data-data tersebut, kita pun menyadari pentingnya penerapan Ekonomi Sirkular pada sektor industri TPT. Berikut beberapa upaya yang sedang direncanakan oleh BAPPENAS:

  1. Di RPJMN 2020-2024, pemerintah merencanakan pembangunan rendah karbon menuju lima arah kebijakan, yang tiga diantaranya sangat terkait erat dengan prinsip Ekonomi Sirkular, yaitu pengolahan limbah, pengembalian energi berkelanjutan, dan pengembangan industri hijau. 
  2. Di RPJMN 2020-2024, Ekonomi Sirkular tercermin dan termasuk di dalam prioritas nasional 1, yaitu penguatan ketahanan ekonomi dan pertumbuhan yang berkualitas. 
  3. Di RPJMN 2025-2029, BAPPENAS fokus pada tiga kegiatan, yakni:
  • Melakukan kajian efisiensi bahan baku pada sektor makanan dan minuman sebagai pelanjutan dari kajian loss and waste yang telah selesai dilakukan.
  • Melakukan capacity building dan pelatihan untuk stakeholders Ekonomi Sirkular agar meningkatkan pemahaman dan membangun landasan kuat untuk mengembangan Rencana Aksi selanjutnya.

4. Dengan dukungan pemerintah dan UNDP, BAPPENAS membentuk Sekretariat Ekonomi Sirkular di bawah Sekretariat Pembangunan Rendah Karbon untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara stakeholders terkait. 

5. Standar Industri Hijau telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Perindusrtrian No. 13 tahun 2019. Peraturan ini secara spesifik membicarakn tentang proses pencelupan, pencapan, dan penyempurnaan di sektor TPT. 

6. Hasil Studi BAPPENAS, UNDP, dan Embassy of Denmark di tahun 2020 menunjukan  bahwa Ekonomi Sirkular menghasilkan berbagai nilai positif bagi aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Nilai-nilai positif tersebut adalah sebagai berikut:

  • Nilai Positif Ekonomi: Pengurangan dan daur ulang limbah tekstil mampu menghasilkan manfaat ekonomi sebesar lebih dari 19,3 Trilliun Rupiah atau 5,5% dari PDB nasional di tahun 2030.
  • Nilai Positif Sosial: Penerapan Ekonomi Sirkular dapat menghasilkan sekitar 164.000 pekerjaan di tahun 2021-2030, dengan 89% terdiri dari pekerja wanita. 
  • Nilai Positif Lingkungan: Pengurangan dan daur ulang limbah tekstil dapat mencegah timbulnya emisi karbon CO2 sebesar 16,4 juta ton dan penghematan 1,2 Millyar Kubik air di tahun 2030. 

7. Untuk mempercepat Indonesia menuju Sirkularitas, pemerintah menyiapkan satu Road Map untuk mempertegas Kebijakan Ekonomi Sirkular di Indonesia. Kini negara kita telah memasuki fase ke-2, yaitu pengembangan rencana aksi Ekonomi Sirkular Nasional yang sedang disusun oleh BAPPENAS. 

 

Melalui ke-7 agenda ini, BAPPENAS menghimbau untuk mempercepat Ekonomi Sirkular pada sektor TPT, maka kita harus melaksanakan tiga upaya. Ketiga upaya itu adalah meningkatkan pemahaman dan pengetahuan terkait dengan Ekonomi Sirkular kepada seluruh stakeholders terkait, menciptakan enabling condition di sektor industri TPT, dan mendorong inovasi & mobilisasi pendanaan yang bersumber dari pemerintah atau non-pemerintah. Namun yang terpenting, setiap agenda ini perlu dilaksanakan secara sinergis agar bisa dikawal tiap tahunnya oleh kita bersama. 

PSLB3, KLHK: Cara Pikir Baru di Dalam Mengolah Sampah untuk Menjadi Bahan Baku

Regulasi pengolahan sampah di Indonesia tertuang pada beberapa peraturan, yakni Undang-Undang 18 tahun 2008, Peraturan Pemerintah 81 tahun 2012, Peraturan Pemerintah 27 tahun 2020, dan Perpres 97 tahun 2017. Berikut beberapa pemaparan singkat mengenai regulasi pengolahan sampah berdasarkan setiap pengaturan:

  1. UU 18 Tahun 2008: Undang-Undang yang mengatur perubahan paradigma dalam menangani sampah agar sampah tidak dibuang ke TPA. 
  2. PP 81 Tahun 2012: Pengelolaan sampah rumah tangga. Seperti sampah kertas, plastik, sayur, dan kain bekas. 
  3. PP 27 Tahun 2020: Pengelolaan sampah spesifik dari rumah tangga. Contohnya baterai bekas, lampu bekas, semprotan obat nyamuk, kaleng bekas, dan sisa-sisa pembangunan. 
  4. Perpres 97 tahun 2017: Kebijakan Strategi Nasional yang membicarakan tenatang pengurangan limbah sebesar 30% dan penanganan limbah sebesar 70% di tahun 2025. Artinya di tahun 2025, 100% sampah harus terkelola. Di dalam melaksanakan ini, 400 kabupaten-kota telah membuat kebijakan strategi daerah untuk menunjang tujuan tersebut. 

Keempat peraturan ini kemudian diturunkan untuk menjadi himbauan bagi masyarakat agar merubah cara berpikir di dalam menangani sampah. Dari End of Pipe Solution, atau sampah berakhir di landfill, menuju Extended Producer Responsibility & Circular Economy (EPR & CE). Cara pikir EPR & CE terdiri dari Upstream dan Downstream. Berikut tiap-tiap bentuk praktik dari keduanya:

 

  1. Upstream
  • RPP Cukai Kantong Plastik dari Kementrian Keuangan.
  • Peraturan KLHK No 75 tahun 2019 mengenai Road Map pengurangan sampah oleh produsen atau EPR. Peraturan dari KLHK diharapkan dapat membuat industri untuk mulai menggunakan eco-friendly packaging, dan limbah industri dapat ditarik kembali untuk dijadikan bahan baku. 
  • Sedangkan untuk komunitas adalah peraturan KLHK mengenai pengelolaan sampah pada Bank Sampah agar komunitas bisa ikut serta di dalam masa transisi cara berpikir ini. Ibu Rosa pun mensugestikan untuk memaksimalkan Bank Sampah agar masyarakat dapat ikut sejahtera dengan menyumbang sampah yang telah mereka pilah. Kini, PR-nya adalah untuk mencari perusahaan pengolahan sampah bagi sampah-sampah tekstil, karena KLHK sudah memiliki partner untuk pengolahan sampah botol, plastik, kertas, kaca, dan besi.

 

2. Downstream: Bentuk praktik downstream terkait dengan teknologi, seperti pembangkit listrik, tenaga incinerator sampah, dan Adipura yang berfungsi untuk memberikan reward kepada daerah yang secara berhasil melaksanakan gagasan-gagasan ini. 

Akhir presentasi, Ibu Rosa pun menghimbau bahwa yang terpenting di dalam menerapkan Ekonomi Sirkular di dalam Pengolahan Sampah Indonesia adalah perubahan cara pikir. Karena membuang sampah pada tempatnya sudah tidak jaman. Kini, kita sudah seharusnya memilah sampah agar sampah dapat menjadi bahan baku yang bernilai tinggi.

Danish Lifestyle & Design Cluster: Kasus Studi Kolaborasi Ekonomi Sirkular Antara Pemerintah, Pemangku Kepentingan, dan Masyarakat.

Solusi negara Denmark di dalam mengimplementasikan Ekonomi Sirkular terdiri dari tiga fase, yakni pembentukan ekonomi baru melalui regulasi yang dipimpin oleh pemerintah, eco-design, dan penarikan sampah rumah tangga agar masyarakat bisa ikut serta di dalam pembangunan Ekonomi Sirkular di Denmark. Kini, mereka sedang memasuki fase kedua, yakni penghimbauan mengenai eco-design untuk brand-brand Denmark. Sedangkan, fase ketiga baru akan berlangsung di Juli 2023. 

Studi Kasus yang dihadirkan oleh Ibu Gabriella menjadi bukti nyata dari pentingnya kolaborasi antara Pemerintah, Pemangku Kepentingan, dan Masyarakat untuk tercipta. Dengan kata lain, terdapat proses panjang di dalam menjalani masa transisi ini. Oleh karena itu, sebelum kita dapat terjun langsung ke dalam pembangunan Ekonomi Sirkular Nasional, maka ada baiknya untuk kita mencari tahu, mengetahui, memahami, dan mematuhi terlebih dahulu peraturan-peraturan yang diajukan oleh pemerintah agar proses transisi ini dapat berjalan lancar dan lebih cepat.

Kementrian Perindustrian di Sektor TPT: Kesempatan, Implementasi Aktual, dan Tantangan Penerapan Ekonomi Sirkular di Sektor Industri TPT Indonesia.

Kondisi sektor Industri TPT di Indonesia terbagi ke dalam banyak fase. Fase pertama adalah fase produksi. Di fase produksi, industri TPT pastinya akan menghasilkan sampah. Berdasarkan data dari PSLB3, terdapat 2,6% atau senilai 1,7 juta ton sampah tekstil per tahun. Jika dirinci, maka jumlah sampah bisa direka sebanyak 3-8% dari kapasitas produksi pada suatu industri. Dengan kapasitas produksi dari tiap-tiap industri adalah industri Fiber sebesar 3,76 juta ton; industri Spinning sebesar 3,24 juta ton; industri Weaving sebesar 2,38 juta ton; dan industri Garmen sebesar 2,18 juta ton. 

Namun, jumlah kira-kira dari limbah tekstil fase produksi industri TPT sesungguhnya belum ditambahkan dengan perkiraan jumlah limbah tekstil post-consumer. Mengingat produk-produk garmen Indonesia sebagian besar adalah ekspor. Hal ini menunjukan bahwa jumlah limbah tekstil di Indonesia merupakan gabungan dari limbah tekstil industri, limbah tekstil post-consumer garmen negeri, dan limbah tekstil post-consumer garmen luar negeri. 

Oleh karena itu, bisa dibayangkan seberapa banyak sampah yang dihasilkan dari sektor industri TPT. Kondisi ini akan semakin memprihatinkan apabila Indonesia terus menerapkan model ekonomi linier yang menjadikan landfill sebagai tempat penampungan akhir. Pemerintah Indonesia ingin mengubah situasi ini dengan menerapkan prinsip Ekonomi Sirkular pada sektor industri TPT. 

Berikut kesempatan, tantangan, dan contoh implementasi Penerapan Ekonomi Sirkular di sektor industri TPT:

  1. Kesempatan
  • Penggunaan limbah tekstil industri TPT dan rumah tangga sebagai bahan baku. 
  • Konsumen dapat bertautan dengan Retailer. Contohnya dengan melaksanakan segresasi garmen agar garmen-garmen yang masih layak pakai dapat masuk ke retailer kembali. 
  • Konsumen dapat bersinggungan dengan industri Garmen. Konsumen dapat memberikan limbah tekstil garmen ke industri Garmen agar diproses secara fiber recycling atau membuat limbah tekstil menjadi bahan baku produksi melalui proses polimerisasi. 
  • Inovasi & pengembangan teknologi hijau. Inovasi & pengembangan ini diharapkan dapat membantu Indonesia menciptakan fase produksi yang lebih minim limbah. Selain itu, teknologi hijau pun dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Seperti pengurangan air, energi dan bahan kimia. 

2. Implementasi Aktual

  • Pengembangan bahan material daur ulang. Seperti recycled cotton dan recycled polyester.
  • Penggunaan limbah sektor industri TPT sebagai bahan baku. 

3. Tantangan

  • Pemenuhan skala keekonomian dari skala penelitian menuju skala produksi. Artinya tantangan pertama Indonesia adalah untuk merealisasikan setiap gagasan dari penerapan Ekonomi Sirkular di sektor TPT.
  • Permasalahan geografis dan iklim. Poin ini mempengaruhi tingkat kualitas sampah yang Indonesia miliki. Sedangkan untuk menghasilkan kain daur ulang dengan kualitas tinggi, sampah yang kita miliki harus juga berkualitas baik. 
  • Proses pengumpulan dan tranportasi limbah tekstil. Baik dari industri maupun rumah tangga. Namun dari skala kesulitan, maka limbah tekstil rumah tangga akan jauh lebih sulit karena umumnya sampah rumah tangga tercampur dan tidak terpilah.
  • Biaya penerapan Ekonomi Sirkular. Poin ini penting untuk dipikirkan karena sangat bersingunggan dengan kain daur ulang seperti apa yang dapat Indonesia ciptakan agar rencana Ekonomi Sirkular pada sektor TPT dapat dijalankan secara terukur dan terarah.
  • Kandungan zat kimia pada tekstil. Poin ini terkait erat dengan pengembangan teknologi hijau yang Indonesia miliki. 

Dengan kesempatan, implementasi aktual, dan tantangan dipaparkan, maka kita dapat melihat perjalanan menuju sirkularitas seperti apa yang akan kita hadapi. Namun prinsipnya, penerapan Sirkular Ekonomi pada sektor industri TPT merupakan potensi besar karena pendekatan ini menguntungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan nasional. Di akhir presentasi pun, Ibu Elis menyuarakan suatu gagasan yang kemungkinan dapat terjadi di tahun depan, yakni gerakan nasional berupa pengumpulan pakaian bekas nasional. Gerakan ini diharapkan dapat menyatukan masyarakat Indonesia untuk bergerak bersama menuju sirkularitas.

Tanggapan Pable

Di dalam mencerna lima poin pelajaran penting dari National Dialogue, Pable memiliki tanggapannya sendiri. Bagi kami, tantangan utama di dalam penerapan Ekonomi Sirkular terletak pada dua hal, yaitu edukasi dan penyerapan. Edukasi berbicara mengenai minimnya data-data valid mengenai pemaparan progres pengolahan limbah tekstil di Indonesia. Hal ini penting agar Pable dan teman-teman pelaku industri lainnya dapat memahami sejauh apakah praktik Ekonomi Sirkular yang dapat kami lakukan. Berdasarkan pengalaman kami di dalam megolah sampah rumah tangga melalui program Drop Box, dari lima ton pakaian bekas yang kami dapatkan, bisa dikatakan 95% itu masih layak untuk digunakan, dan yang kami masukan ke dalam proses daur ulang hanyalah 5%. Artinya 95% pakaian bekas itu memiliki potensi residu limbah tekstil post-consumer. Hal ini menjadi kekhawatiran utama kami, dan bersinggungan erat dengan tantangan kedua, yakni penyerapan. 


Penyerapan membicarakan kesiapan masyarakat Indonesia untuk menerima tekstil dan produk tekstil daur ulang. Tantangan kedua ini pun kembali lagi pada permasalahan utama dari upaya penerapan Ekonomi Sirkular di Indonesia, yakni edukasi. Kali ini, edukasi yang kami maksud merupakan edukasi yang bersifat menyeluruh. Karena hanya dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat Indonesia dapat menyelami inti utama dari Ekonomi Sirkular. Terutama pada pembentukan gaya konsumsi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, kami berharap National Dialogue dapat sering dilakukan agar masyarakat Indonesia, termasuk Pable dan pelaku industri dari sektor industri TPT, membutuhkan edukasi yang jauh lebih mendalam mengenai Ekonomi Sirkular di Indonesia.

Semoga lima poin pelajaran penting dari National Dialogue dapat memberikan titik cerah bagi circular heroes lainnya. Kami berharap lima poin ini pun dapat menjadi pemacu teman-teman untuk menemukan solusi-solusi berkelanjutan baru yang dapat menjawab tantangan-tantangan yang telah dipaparkan. 

 

Mari bergerak maju bersama menuju Indonesia yang Sirkular!

Scroll up Drag View