fbpx
UncategorizedBerkenalan dengan pak mulyono

Berkenalan dengan pak mulyono

Kali ini Pable ingin memperkenalkan salah satu aktor intelektual di balik proses penenunan kain kami yaitu Pak Mulyono, 38 tahun. 

Pria asli kelahiran Pasuruan, memilih profesi penenun sejak umur 20 tahun, karena faktor kebutuhan ekonomi. Berawal dari menjadi teknisi untuk Alat Tenun Bukan Mesin ( ATBM ), dengan memperbaiki bagian – bagian mesin tenun yang bermasalah. 

Hanya saja, ketika mesin tenun bermasalah maka akan berimbas pada proses produksi yang harus dilakukan oleh penenun, karena kebanyakan para penenun diupah harian berdasarkan seberapa banyak mereka dapat menghasilkan. Hal ini memicu Pak Mulyono untuk berpikir lebih jauh agar kendala – kendala di mesin tenun manual dapat diminimalisir dan upah pekerjaan harian tidak terpotong banyak. 

Akhirnya Pak Mulyono mulai mempelajari mesin dan cara merakitnya. Dimulai dengan mencari spare part dari mesin – mesin bekas, Pak Mulyono bersama dengan majikannya mempelajari lebih detail untuk menciptakan mesin tenun semi manual. Setengah menggunakan mesin dan setengah lagi tetap menggunakan keterampilan dari penenun.

Tujuannya agar bisa mengoptimalkan proses penenunan kain, sehingga hasil kain tenun per hari dapat mencapai target dan penenun harian tetap bisa mendapat penghasilan yang cukup. Pak Mulyono dengan bangga menyebut dirinya sebagai Pencipta dari Alat Tenun Semi Manual.

Selama menggeluti pekerjaan menenun selama 18 tahun, belum pernah ada yang datang ke desanya untuk mengembangkan produk lain selain kain pel dan kain serbet yang selama ini telah dikerjakan. Barulah pada bulan April 2020, Aryenda Atma selaku Founder dari Pable berkunjung dan mengutarakan keinginannya untuk mengajak para penenun mengembangkan kain tenun dari benang daur ulang sampah tekstil.

Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa benang yang dibawa oleh Pable berasal dari olahan sampah tekstil, yang membuat Pak Mulyono bersama rekan – rekannya bersemangat untuk mengolah benang tersebut lebih jauh.

“Daripada sampah dibuang, lebih baik diolah menjadi kain lagi”,

mengutip kalimat pertama yang dilontarkan oleh Pak Mulyono setelah mengetahui cerita di balik perjalanan benang Pable.

Mengolah benang daur ulang ternyata memiliki tantangan tersendiri, dan tidak semudah benang virgin pada umumnya. Faktor kekuatan benang daur ulang yang lebih rendah membuatnya sulit untuk diolah. Brunthul, itulah kata – kata pertama yang diucapkan oleh para pemintal benang dan para penenun. 

Benang mudah putus dan kadang tersangkut di sisir, yang membuat proses pengerjaan kain menjadi lebih lama. Sempat putus asa dan lelah dengan segala kesulitan yang dihadapi, hingga mengakibatkan Pak Mulyono tidak masuk kerja 3 hari karena kelelahan mengotak – atik mesin dan mencari tehnik tenun yang pas untuk benang daur ulang. Untungnya, Pak Mulyono kembali dengan rasa penasaran dan mulai menyelesaikan proses penyesuaian alat tenunnya, sehingga benang – benang daur ulang akhirnya dapat ditenun dengan baik.

Pak Mulyono berharap, dengan adanya Pable, membawa dampak ekonomi untuk warga desanya dan anak – anak muda dapat meneruskan tradisi menenun, sehingga mereka mempunyai alternatif pekerjaan lain selain bekerja di pabrik atau pun mini market.

Apalagi, dari awal penduduk desa hanya memproduksi kain pel dan serbet yang telah dilakukan selama berpuluh – puluh tahun, tanpa memiliki pemikiran untuk mengembangkn produk lainnya, sekarang bisa memproduksi produk lain yaitu kain dari hasil daur ulang sampah tekstil.

Scroll up Drag View